alexa-tracking

Main Content

[SAY YOUR SHOP] Pusat GROSIR & ECER Pakaian Bali, Daster Bali, Mukena Bali [TERMURAH]
Kondisi Barang : Baru
Harga : Rp 40.000
Location : Banten
CLOSED
profile picture
Loading...
sayurshop
Loading...

PROSEDUR PEMESANAN

CLOSED
profile picture
Loading...
sayurshop
Loading...
CLOSED
profile picture
Loading...
sayurshop
Loading...
CLOSED
profile picture
Loading...
sayurshop
Loading...
CLOSED
profile picture
Loading...
sayurshop
Loading...
Tiba-tiba bulan Desember sudah
datang, dan sebentar lagi tahun lama
berpulang. Dan tiba-tiba satu tahun
usia kita pun berkurang.
Lalu, adakah perjalanan selama
hampir setahun ini telah menyisakan
jejak yang berharga bagi babakan
sejarah hidup Anda? Or just another
year : tahun yang lewat begitu saja
dalam hidup Anda yang terus
menggelinding, tanpa meninggalkan
sekeping makna yang layak
dikenang?
Apapun jawabannya, di pagi ini saya
hendak mengajak Anda untuk
menyelami satu kata ajaib (one magic
word) yang terbukti telah memberikan
pengaruh begitu dramatis dalam
mengubah nasib orang. Apa gerangan
kata ajaib itu, dan bagaimana
menumbuhkannya dalam sekujur raga
kita; mari kita tengok bersama-sama.
Dalam semesta kehidupan manusia
yang begitu panjang, terbukti ada
sebuah kata ajaib yang again and
again memberikan powerful impact
dalam mengubah nasib seseorang.
Satu kata yang ajaib itu simpel dan
sederhana : syukur (atau gratitude
dalam bahasa Inggrisnya). Ya, rasa
syukur yang terus mengalir. Never
ending gratitude for life.
Sungguh, syukur adalah sebuah habit
yang begitu mudah dilakoni, namun
begitu dramatis manfaatnya bagi
hidup kita.
Landasan spiritual tentang syukur
atas segenap anugerah Sang Pencipta
juga begitu kuat. Begitulah, kita ingat
akan firman ini : Sesungguhnya jika
kamu bersyukur, niscaya Aku akan
menambah nikmat kepadamu (QS 14 :
7).
Ada hukum resonansi yang mau
dihadirkan disini : semakin sering
Anda bersyukur, maka biasanya yang
Anda syukuri itu akan makin sering
menghampiri Anda.
Sebaliknya, ingat ini : semakin Anda
sering mengeluh, maka biasanya yang
Anda keluhkan itu justru akan makin
sering menghampiri Anda.
Ada hukum tarik menarik disini.
Begitulah, jika Anda sering mengeluh
mengenai bos atau kerjaan di kantor
Anda, maka yang Anda keluhkan itu
malah makin akan sering mendatangi
Anda.
Kalau Anda sering mengeluh
mengenai kekurangan gaji, maka
biasanya yang Anda keluhkan ini
justru akan terus menghampiri Anda.
Begitu seterusnya. Alam semesta
sekedar mengirim balik persis apa
yang ada dalam pikiranmu.
Sebaliknya, limpahan rasa syukur
yang terus Anda lantunkan akan
membuka tabir Kebesaran Ilahi, dan
“Invisible Hand” pelan-pelan akan
mengirimkan paket kejutan pada
Anda : apa yang terus Anda sukuri itu
akan makin rajin menghampiri Anda.
Anda bersyukur atas kesehatan Anda,
maka Anda akan makin sehat bugar.
Anda bersyukur atas gaji yang Anda
peroleh, maka niscaya Anda akan
makin bertambah penghasilannya.
Hukum resonansi dan tarik menarik
kembali berlaku disini.
Ada banyak kiat untuk
menginjeksikan rasa syukur ini dalam
lelakon hidup Anda, namun disini
saya hanya akan membahas dua saja
diantaranya.
Gratitude Act # 1 : Setiap pagi ketika
bangun tidur (akan jauh lebih afdol
jika dilakukan selepas shalat shubuh
atau shalat tahajud), ucapkan rasa
syukur atas 5 hal yang Anda dapatkan
selama ini : misal syukur atas nikmat
sehat sehingga mata Anda masih bisa
membaca blog ini; syukur atas rezeki
yang Anda peroleh; atas pekerjaan
yang Anda dapatkan; atau syukur
atas beragam nikmat yang telah
diberikan (maka nikmat Tuhanmu
manakah yang engkau dustakan, QS
55 : 12 ).
Beragam studi empiris menunjukkan,
habit mengucap syukur di pagi hari
atas setidaknya 5 anugerah dalam
hidup; akan membuat orang itu makin
happy, dan selanjutnya akan mampu
merajut hidup yang sejahtera.
Gratitude Act # 2 : Teknik yang kedua
ini saya sebut sebagai “Future
Visualization with Gratitude”.
Maksudnya begini : bangunlah
visualisasi tentang masa depan yang
Anda inginkan, dan kemudian
hadirkan rasa syukur seolah-olah
visualisasi itu telah terwujud.
Contohnya begini : misalkan suatu
saat nanti Anda ingin naik haji, maka
bayangkan ekspektasi ini sambil
membatin dalam hati : ya Allah, saya
bersukur padaMU karena dengan
karuniaMU, saya bisa berangkat naik
haji.
Atau contoh lain : Anda memiliki
ekspektasi untuk membangun bisnis
sendiri yang sukses; maka bangunlah
visualisasi tentang bisnis Anda yang
sukses; sambil berbisik dalam hati :
ya Allah, saya bersyukur padaMU
karena dengan anugerahMU saya bisa
mewujudkan impianku ini.
Jangan pernah under estimate dengan
teknik diatas : saya mengalaminya
berkali-kali. Dulu sebelum dapat
beasiswa sekolah di Amerika, saya
membangun visualisasi yang kuat
tentang kuliah di Amerika, sambil
bersyukur seolah-olah hal itu telah
terjadi. Keajaiban Ilahi kemudian
datang; dan mimpi itu terwujud.
Sama, bertahun-tahun sebelum punya
blog ini, saya selalu punya visualisasi
kuat tentang blog yang hendak saya
bangun; sambil terus bersyukur
bahwa “Invisible Hand” akan hadir
membantu. Dan akhirnya terbukti :
blog itu benar-benar hadir di hadapan
Anda, persis seperti yang saya
angankan bertahun-tahun
sebelumnya. (Bisnis konsultan juga
saya wujudkan dengan teknik ini,
yakni Positive Visualization with
Gratitude).
Demikianlah, satu kata ajaib yakni
SYUKUR, dan dua kiat praktis untuk
menumbuhkannya dalam lelakon
hidup kita.
Akhit kata : mari sama-sama kita
bersyukur bahwa kita masih diberi
kesempatan untuk menjalani hidup
yang mulia ini.

TERUSLAH BERSYUKUR, dan
percayalah : keajaiban hidup akan
segera menghampirimu.
profile picture
Loading...
sayurshop
Loading...
Setiap tahun kita berharap gaji yang
kita terima atau pendapatan dari
usaha yang kita jalankan, bisa terus
meningkat. Sebab, hey, harga barang-
barang di sekitar kita terus merayap
naik. Dan diam-diam tanpa kita
sadari, selama ini pendapatan kita
secara riil terus merosot gara-gara
digerus angka inflasi yang tak
kunjung henti.
Lalu, berapa penghasilan atau
pendapatan minimal yang harus kita
peroleh untuk bisa hidup secara
layak, ditengah kepungan angka
inflasi yang tak pernah kunjung
berhenti menari? 10 juta per bulan?
15 juta? Atau 30 juta? Mari kita
sejenak luangkan waktu untuk
dengan sungguh-sungguh
menghitung berapa banyak kebutuhan
hidup kita – demi meraih kehidupan
yang penuh sejahtera nan bahagia……
Sebelum menelisik angka demi angka
yang tersaji, ada sedikit catatan yang
perlu dikedepankan. Hidup layak
dalam bayangan saya adalah hidup
yang cukup nyaman, mapan, dan
tidak kekurangan secara finansial.
Sebab dengan itu Anda baru bisa
menikmati hidup dan tidur dengan
nyenyak. Sebaliknya, jika Anda masih
serba kekurangan, atau apalagi tiap
bulan dimaki-maki debt collector
lantaran tagihan kartu kredit yang
macet; maka itu artinya Anda masih
belum hidup layak (bahasa
kampungnya : financially
incompetent ).
Perhitungan disini mengambil asumsi
bahwa Anda sudah berkeluarga
dengan dua anak (kalau Anda belum
berkeluarga, maka angka-angka
dibawah inilah yang kelak harus Anda
penuhi). Mari kita mulai dengan biaya
untuk kebutuhan hidup sehari–sehari.
Biaya Kebutuhan Hidup Sehari-hari
Berapa biaya kebutuhan hidup sehari-
hari untuk sebuah keluarga dengan
dua anak di kota besar seperti
Jakarta atau Surabaya atau Medan?
Kebutuhan sehari-hari adalah untuk
makan (diselingi sebulan sekali
makan sekeluarga di mal); untuk
membayar iuran keamanan, bayar
listrik, air PAM, langganan koran, beli
sabun, rinso, odol, dan juga jajan/
uang saku anak-anak serta
sumbangan kanan kiri. Estimasi saya,
Anda mesti mengeluarkan uang
sejumlah Rp 4 juta per bulan untuk
kebutuhan ini.
Biaya Pendidikan Anak
Oke, sekarang banyak sekolah SD
Negeri yang gratis dan murah meriah
(lantaran anggaran pendidikan yang
meroket). Namun kalau Anda ingin
menyekolahkan anak Anda di sekolah
swasta yang kredibel (seperti Al
Azhar, Lab School atau sejenisnya),
plus kursus ini itu, maka dengan dua
anak kita akan menghabiskan
anggaran sekitar Rp 1 juta/bulan
untuk investasi masa depan ini.
Biaya Transportasi dan Komunikasi
Tarif tol terus merambat naik dan
kemacetan makin membuat
penggunaan bensin boros. Dengan
asumsi Anda membawa mobil ke
kantor, dan biaya bensin ndak
ditanggung oleh kantor; maka kita
bisa menghabiskan sekitar Rp 1,5 juta
per bulan untuk bensin, tol dan biaya
parkir. Ditambah pengeluaran pulsa
telpon dan langganan internet
speedy, kita akan spend sekitar Rp 2
juta untuk pos ini.
Biaya Kredit Mobil
Beruntunglah Anda yang mendapat
fasilitas car ownership dari kantor
Anda…..Sebab jika tidak, atau kalau
ingin menambah mobil sendiri lagi,
Anda mesti mengalokasikan anggaran
sekitar 130 – 200 jutaan (inilah uang
yang mesti kita keluarkan untuk
mobil bagi keluarga muda seperti
Avanza, Toyota Rush, atau Nissan
Grand Livina). Jika Anda membelinya
dengan kredit (65 % masyarakat kita
membeli mobil dengan kredit) serta
dalam jangka 5 tahun; maka itu
artinya kita mesti mengalokasikan
dana sekitar Rp 4 juta per bulan
untuk keperluan ini.
Biaya Kredit Rumah
Anda tidak ingin selamanya tinggal di
Pondok Mertua Indah, bukan?
Beruntung kalau Anda dapat warisan
rumah tinggal dari bokap atau
nyokap. Sebab, tempo hari saya
melihat iklan sebuah rumah mungil
ukuran 4 L (lu lagi lu lagi karena
saking kecilnya ukuran rumah) untuk
keluarga muda di area BSD (Bekasi
Sono Dikit, maksudnya) sudah
mencapai harga sekitar 400 juta-an.
Dengan jangka waktu 10 tahun, dan
dengan suku bunga yang alamak kok
makin melangit, maka Anda harus
mengeluarkan sekitar Rp 4 juta untuk
kredit “istana peristirahatan” Anda
yang lu lagi lu lagi ini.
TOTAL : Rp 15 juta per bulan. Ya,
angka inilah jumlah total dari rincian
pengeluaran diatas. Dan angka inilah
yang menurut saya merupakan jumlah
minimal yang harus Anda berdua
penuhi untuk bisa membangun
keluarga yang layak dan kredibel di
kota besar. Bagi Anda yang sudah
mendapat penghasilan diatas angka
15 juta/bulan – congratulation. Bagi
yang belum, maka segeralah berpikir
keras dan ambil action untuk mencari
cara memperoleh extra income
(dengan halal tentunya).
Berpikirlah secara kreatif untuk bisa
menambah income. Lalu berikhtiar-
lah dengan tekun, sebab Tuhan itu
Maha Kaya. Kalau Anda kompeten,
kreatif, dan tekun berusahan plus
tekun berdoa, insya Allah rezeki yang
barokah akan mengalir pada Anda.
Think positive. Be optimistic.
profile picture
Loading...
sayurshop
Loading...

READY STOCK DASTER

Tahun 2012 sebentar lagi akan
berakhir, dan segera prospek UMR
2013 (sekarang diubah menjadi Upah
Minimum Provinsi dan Upah Minimum
Kota/Kabupaten) menjadi ramai
dibicarakan. Sejumlah wakil pekerja
menyuarakan agar UMP DKI Jakarta
dinaikkan menjadi Rp 2,4 jutaan, atau
naik secara dramatis dibanding UMP
tahun ini yang angkanye berkisar
pada Rp 1,5 juta per bulan.
Menjalani hidup di kota besar seperti
Jabodetabek dengan dua anak, hanya
dengan gaji 1,5 jutaan memang amat
menghimpit. Empati sedalam-
dalamnya harus selalu dihadirkan
bagi perjuangan mereka menuntut
kenaikan gaji (saya kadang bete
terjebak kemacetan gara-gara demo
buruh, namun saya kemudian ingat :
anak-anak mereka di-rumah mungkin
tengah menangis lantaran ayahnya
tak lagi sanggup membeli nasi).
Di pagi yang mendung ini, ditengah
beban biaya hidup yang kian
menghimpit, ditengah kegalauan
lantaran uang gaji yak pernah lagi
bisa ditabung, kita mau membedah
tema itu : tentang upah minimal yang
selayaknya dihaturkan pada jutaan
pekerja Indonesia yang tercinta.
Oke, oke, saya sudah sering
mendengar kenapa usulan kenaikan
UMP menjadi 2 jutaan per bulan itu
tidak masuk akal. Pasti banyak
perusahaan yang tidak sanggup,
tutup usahanya (atau relokasi ke
negara lain), dan akibatnya : PHK,
dan akhirnya pengangguran justru
melesat.
Sayangnya, alasan itu klise, dan
berangkat dari pola pikir yang linear
(bukan pola pikir lateral). Maksud
saya, tak ada salahnya kita sedikit
memberikan ruang bagi pandangan
yang berbeda, yang mungkin lebih
fresh, dan lebih inovatif (lantaran
tidak terjebak linear thinking).
Maka, mari kita simak argumen
kenapa usulan kenaikan UMR yang
signifikan layak dipertimbangkan.
Argumen pertama : memberikan gaji
yang memadai pada pekerja dan
buruh adalah salah satu pilar penting
untuk membangun kemakmuran
bangsa (sejarah kebangkitan ekonomi
Amerika dipicu oleh kenaikan upah
buruh yang dramatis pada era tahun
50-an).
Sebabnya sederhana : dengan gaji
yang memadai, kalangan buruh akan
punya daya beli yang lebih bagus,
dan secara kolektif hal ini akan
memicu demand produk secara
dramatis (dan persis inilah yang
terjadi pada kebangkitan ekonomi
Amerika di era tahun 50an dan
ekonomi Korea di tahun 80-an yang
mencengangkan itu).
Kalau jutaan buruh upahnya pas-
pasan, daya beli mereka jatuh, lalu
siapa yang akan membeli produk-
produk yang dihasilkan pabrik itu?
Sebaliknya, dengan gaji memadai,
para buruh akan memiliki
consumption and buying power yang
lebih baik. Dan percayalah : dalam
jangka panjang ini JUSTRU akan
menguntungkan para pengusaha
(sebab permintaan akan produk-
produk mereka pasti akan meroket).
Argumen kedua : UMR yang tinggi
akan menggedor kreativitas
pengusaha untuk mulai menciptakan
high value added products dan juga
level produktivitas pekerjanya.
Justru disini UMR yang tinggi
menjadi pendorong the magic of
innovation : pengusaha yang selama
ini hanya maunya jadi “pengusaha
kelas tukang jahit” atau hanya
memproduksi barang-barang
komoditi, dipaksa untuk
mengembangkan high valued added
product yang memberikan profit
margin yang lebih tinggi (supaya bisa
membayar UMR).
Transformasi tersebut amat krusial
kalau kita tak ingin pengusaha tanah
air berjalan di tempat. Dan ingatlah
selalu : transformasi semacam ini
yang akan membuat negeri ini tidak
masuk dalam “middle income nation
trap”.
UMR yang tinggi lantas tak akan
pernah dikenang sebagai kutukan
sejarah, namun justru “berkah
terselubung” bagi kebangkitan
inovasi ekonomi negri ini.
UMR yang tinggi juga akan memaksa
pengusaha untuk inovatif dalam
meningkatkan level produktivitas
pekerjanya. Again, UMR yang tinggi
mestinya dianggap sebagai PELUANG,
bukan PROBLEM : peluang yang
menantang pengusaha untuk
menemukan cara-cara inovatif
melejitkan produktivitas.
Mindset pengusaha harusnya begini :
kalau UMR naik 50%, namun level
produkvitas naik 300%, why not. Pan
pengusaha katanya orang-orang yang
berjiwa kreatif.
Argumen yang terakhir : puluhan riset
empiris dengan ribuan responden
perusahaan memberikan kesimpulan
yang terang benderang. Bahwa semua
perusahaan menjadi hebat lantaran
memberikan upah dan gaji yang amat
memadai bagi buruh/pekerjanya.
Dilema ayam sama telor duluan mana
terpecahkan disini : riset itu
menunjukkan bahwa perusahaan
harus memberikan gaji yang memadai
LEBIH DULU, baru kemudian kinerja
bisnis mereka akan melesat.
Bukan sebaliknya : mari kita kerja
keras dulu, gaji apa adanya dulu ya,
baru nanti kalau profit bagus, kita
akan naikkan gaji ya (masih dengan
embel-embel, tapi ndak janji lho).
Sekali lagi : terus guwe mesti harus
bilang wow gituh?
Konon, pengusaha atau entrepreneurs
adalah risk takers dan collective of
innovative minds yang selalu haus
dengan tantangan. Kalimat itu hanya
akan menjadi fatamorgana, kalau etos
inovasi yang legendaris itu tidak
dihadirkan untuk mengatasi isu UMR
ini.
profile picture
Loading...
sayurshop
Loading...
permisi mod ane numpang buat trit, mungkin sedikit berguna emoticon-Smilie

Tulisan saya minggu lalu yang
bertajuk : Kenapa UMR 2013 Harus
Menjadi Rp 2,5 juta/bulan menuai
sejumlah komentar. Beberapa
komentar memberikan counter-
argument (yang isinya bahkan lebih
panjang dibanding tulisan yang saya
posting). Counter argument itu masuk
akal dan layak diapresiasi. Toh,
sejarah jua yang akan jadi saksi :
apakah tulisan saya atau counter
argument itu yang mengandung
sekeping kebenaran.

Namun yang lebih getir adalah fakta
ini : bahkan meski angka Rp 2,5 juta
itu disetujui, jumlah ini mungkin
belum juga memadai. Dalam tulisan
berjudul Berapa Penghasilan yang
Harus Anda Dapatkan untuk Hidup
dengan Layak , saya menghitung
angka penghasilan minimal agar Anda
bisa hidup sejahtera dan bisa beli
rumah sendiri, adalah sekitar 15 juta
per bulan.

Ingat, harga emas naik 3 kali lipat dalam lima tahun terakhir. Jika gaji
Anda tidak naik dengan skala yang
sama, ya wasalam : tanpa Anda sadari
gaji sampeyan itu sudah dicuri oleh
perampok bernama inflasi.

Jadi mari di pagi ini, kita bicara
tentang cara supaya penghasilan
Anda bisa naik secepat harga emas.

Perdebatan mengenai eksploitasi
buruh dan pegawai rendahan dengan
upah murah (lengkap dengan segala
justifikasinya) sejatinya telah berumur
ratusan tahun. Dua abad silam,
paman Karl Marx pernah menguliknya
dengan sangat memukau dalam buku
Das Kapital (dulu ketika jaman masih
kuliah, kami rajin mengunyah
pemikiran Marxisme yang elegan itu,
sambil ditemani dua bungkus nasif
kucing. Dulu……ketika kami masih
idealis dan hidup susah…).

Marx bilang, untuk memperbaiki nasih
buruh yang malang itu, selalu harus
dilakukan gerakan demo, pemogokan
masal, menggertak kaum borjuis
kapitalis, dan bahkan kalau perlu
meretas jalan revolusi. Doh.

Namun saran Paman Karl Marx itu
terasa melelahkan. Kita jadi terlalu
menunggu dan bergantung pada
pihak lain (kebijakan negara,
kebijakan pengusaha, dll) untuk
merawat masa depan anak istri.

Dan persis di titik itulah kita lalu
bersua dengan sebuah keyakinan :
mengubah nasib Anda harus selalu
dimulai dari diri Anda sendiri; tanpa
harus terlalu lelah dan frustasi
menunggu uluran tangan orang lain
(siapapun pihak lain itu).

You must create your own history.
You define your own storyline.


Disini ada dua jalan yang bisa
ditelusuri. Jalan yang pertama adalah
you start your own business (atau
side business, jika tetap ingin
menjadi pegawai). Pertanyaannya :
Apakah buruh dan pegawai rendahan
dengan upah pas-pasan bisa
membangun bisnis sendiri?

Jawabannya lugas : bisa. Sebab, kita
tak pernah kekurangan kisah yang
menggugah itu : tentang mantan
office boy restoran yang sekarang
jadi juragan warung makan dengan
mobil Hummer, tentang mantan
pemulung yang kini jadi jutawan
barang bekas, tentang mantan montir
rendahan yang kini punya pemilik
jaringan bengkel. And the story goes
on and on and on.

It’s all about mindset sodara-sodara :
jika mindset Anda terus berpikir
tentang kekurangan lantaran jadi
pegawai rendahan, maka selamanya
Anda akan jadi orang pas-pasan.
Namun kalau mindset Anda selalu
penuh dengan energi kelimpahan,
maka keajaiban rezeki itu diam-diam
akan memeluk Anda dengan penuh
sukacita.

Jalan kedua adalah tetap bekerja
dengan tekun, apapun posisi dan
penghasilannya. Sebab : semua layak
di-syukuri. Sebab semua mesti di-
ringkus dengan keihlasan. Namun,
senyampang dengan itu, elan spirit
untuk terus maju harus selalu di-
kibarkan.

Begitulah, ada kisah tentang porter
(kuli) hotel yang sambil bekerja terus
berjibaku melanjutkan kuliah. Ada
klerk yang tiap malam belajar kursus
perpajakan. Ada salesman jalanan
yang tekun membaca buku dan
mengumpulkan ilmu.

Dan keajaiban rezeki itu akhirnya
jatuh menebarkan parade
kemakmuran : porter itu kini menjadi
GM hotel terkemuka dunia, klerk itu
kini menjadi manajer pajak yang
handal, dan salesman rendahan itu
itu kini jadi Direktur Penjualan.e

Pakemnya sama : mindset
berkelimpahan dan spirit untuk terus
maju yang harus terus dirajut . Yang
harus selalu dipatrikan dalam sekujur
tubuhmu. Dan impian tentang hidup
yang sejahtera itu perlu terus
diyakini.

Sebab, remember this : what you
believe is what you get.


Saya ndak tahu berapa gaji/
pendapatan Anda saat ini. Kalau
sudah merasa memadai, ya syukur.
Kalau belum, ya syukur juga.

Namun saya yakin, Anda semua kelak
pasti akan menemui keajaiban rezeki
yang berkelimpahan. Kenapa? Sebab
Anda masih mau meluangkan waktu
membaca blog ini (meski sudah
dilarang-larang). Itu artinya Anda
masih punya semangat untuk terus
mau belajar, untuk terus maju.

Selamat bekerja teman-teman.
Selamat berjibaku merawat masa
depan.