alexa-tracking

PENGAKUAN SOEHARTO "LANGKA"

Main Content

PENGAKUAN SOEHARTO "LANGKA"
Rp 300.000
Lokasi : DKI Jakarta
Kondisi : Baru
Posted on : 06-03-2017 14:09
Terjual : 0 barang telah terjual
Dilihat : 1213 kali
Berat : 1 gram
Last Sundul : 14 hours ago

Penjelasan Produk

BUKA: obiesantun.blogspot.com

TELEPON: 089-999-26-779

DITUNGGU TELEPONNYA, MINIMAL SMS DEH

SIAP KIRIM KE LUAR KOTA

BUKA: obiesantun.blogspot.com

TELEPON: 089-999-26-779

ANDA AKAN MENEMUKAN BARANG YANG UNIK-UNIK

Otobiografi Soeharto: "Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya"
Inilah buku tentang Soeharto yang dulu sangat dicari orang,
ketika meninggalnya mantan Presiden Soeharto di th.2008.
Saat ini, ketika akan diberikan gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto,
buku ini di cari-cari orang lagi.

Jika ingin menyelami Soeharto, maka otobiografi Soeharto:
"Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya" adalah media yang tepat.
Di buku yang dirilis 1989 inilah Soeharto bicara banyak hal,
termasuk Surat Perintah 11 Maret (Supersemar).
Selama ini, banyak kalangan menuduh Supersemar adalah alat Soeharto
untuk naik ke pentas kekuasaan.

Dalam otobiografinya, Soeharto yang langsung membubarkan PKI
begitu mendapatkan Supersemar dari Presiden Soekarno, menjawab tuduhan itu
di halaman 173:
"Memang setelah saya umumkan tentang adanya "Supersemar" itu, dipersoalkan orang,
apakah surat perintah itu hanya satu "instruksi" Presiden kepada saya,
ataukah satu "pemindahan kekuasan eksekutif yang terbatas?"
Menurut saya, perintah itu dikeluarkan di saat negara dalam keadaan gawat
di mana integritas Presiden, ABRI dan rakyat sedang berada dalam bahaya, s
edangkan keamanan, ketertiban dan pemerintahan berada dalam keadaan berantakan.
Seperti saya nyatakan di depan Radio dan TVRI di pertengahan Juni 1966,
saya tidak akan sering menggunakan Surat Perintah 11 Maret tersebut,
lebih-lebih kalau surat perintah itu belum diperlukan.
Mata pedang akan menjadi tumpul bila selalu digunakan.

SOEHARTO, dalam buku otobiografinya yang berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, mengaku telah melihat Kolonel Abdul Latief, di RSPAD Gatot Subroto, jam 22.00 WIB, tanggal 30 September 1965.

Saat itu, Soeharto berada di RSPAD karena anaknya Tomy, sedang dirawat akibat terkena sop panas. Itulah detik-detik sebelum Kolonel Latief melakukan penculikan para jenderal yang dikenal dengan Gerakan 30 September (G 30 S) 1965, pada pukul 04.00 WIB.

Dalam otobiografinya, Soeharto mengaku tidak tahu peristiwa itu. Sebab, setelah melihat Latief di RSPAD Gatot Subroto, sekitar jam 24.00 WIB, dia langsung pulang ke rumahnya, di Jalan H Agus Salim, lantaran diminta istrinya pulang.

"Saya disuruh oleh istri saya, cepat pulang ke rumah, karena ingat kepada Mamik, anak perempuan kami yang bungsu. Sesampai di rumah, saya berbaring dan bisa cepat tidur," terang Soeharto, dalam bukunya, halaman 118.